Menyoal Lalu Lintas Surabaya

Jun 14, 2007 by

Surabaya, sebagai kota metropolitan ke 2 di Indonesia setelah Jakarta, mempunyai masalah yang pelik mengenai penataan arus lalu lintas selain masalah-masalah lain yang berhubungan dengan tata kota. Sama halnya dengan kota-kota besar lainnya, masalah lalu lintas menjadi perhatian serius pemerintah daerah masing-masing. Bahkan, sangking seriusnya, terkadang pengambilan keputusan strategis penataan lalu-lintas manjadi terkesan lambat. Seperti yang terjadi di kota Surabaya ini. Kok??

Saya adalah warga pendatang yang sudah sejak tahun 1994 awal tinggal di Surabaya. Tahun tahun awal sejak pertama kali datang, kesan yang timbul tentang lalu lintas di Surabaya saat itu adalah sepi, nyaman dan aman. Bahkan saya sempat gembar-gembor kepada teman dan sejawat saya, keliling kota Surabaya hanya butuh waktu satu jam!!. Hal itu sudah saya buktikan dengan mengendarai mobil, start dari jalan Padmosusastro – Diponegoro – Ahmad Yani sampai Aloha lalu putar balik ke arah Surabaya melewati S.Parman – Ahmad Yani – Darmo terus menyusuri jalan protokol sampai ke Perak, putar balik lagi melalui Perak – Jemb.Merah – Tugu Pahlawah sampai Jl. Darmo. Lalu berbelok ke kanan Jl. Dr. Sutomo sampai kembali ke Padmosusastro. Dengan kecepatan rata-rata 40-60 Km/jam, waktu tempuh yang dihabiskan kurang lebih 1 jam!.

Jika dibandingkan dengan keadaan sekarang, atau 4-5 tahun kebelakang, perbedaan yang mencolok saya rasakan dengan kondisi lalu lintas Surabaya. Untuk mencapai kantor yang terletak di sekitar Darmo, dari daerah delta sari yang hanya berjarak kurang lebih 12k, waktu yang saya butuhkan adalah 30 menit! Tentu saja itu terjadi pada saat jam-jam sibuk. Jika diluar jam sibuk, kurang dari 30 menit.

Yang menjadi sorotan buat saya adalah, selama lebih dari 10 tahun menetap di Surabaya, sampai sekarang berdomisili di Sidoarjo, ruas jalan protokol di Surabaya tidak bertambah!! Padahal, salah satu cara untuk mengatasi kemacetan lalu lintas adalah dengan menambah ruas jalan. Dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang mencapai 10% tiap tahunnya, dapat dibayangkan berapa jumlah kendaraan yang melewati jalan-jalan di Surabaya tiap menitnya.

Sebenarnya, pemkot Surabaya pun sudah memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalah lalu lintas ini. Beberapa ruas jalan alternatif, atau lebih di kenal ring-road sudah dibangun, pelebaran di beberapa ruas jalan serta rekayasa lalu lintas. Lalu pernah juga ada pembahasan mengenai tol dalam kota, pembangunan ruas tol lingkar timur yang tembus langsung ke jembatan suramadu, sampai terakhir penerapan program time shift yang dicanangkan oleh pemkot Surabaya.

Beberapa alternatif yang disebutkan diatas, sampai saat ini belum juga ada khabarnya. Sedangkan, program time shift yang dicanangkan oleh pemkot sejak April kemarin, tampaknya belum juga membuahkan hasil yang optimal. Ini terlihat dari kondisi lalu lintas di jalan-jalan protokol pada jam-jam sibuk (pagi dan sore hari) belakangan ini.

Mungkin, jalan keluarnya bukan hanya sekedar penambahan ruas jalan, yang notabene membutuhkan dana yang sangat fantastis. Tetapi, menurut pandangan saya, pemkot Surabaya dapat menekan biaya penambahan ruas jalan, minimal pada ruas-ruas Jl. Ahmad Yani – sampai Wonokromo (jemb. wonokromo). Bagaimana caranya? Mari kita lihat. Hampir sepanjang jalan Ahmad Yani, terdapat kantor-kantor pemerintahan yang mempunyai halaman kosong yang sangat luas dan cenderung tidak dimanfaatkan. Kalau kita memasuki jalan Ahmad Yani, sejak bundaran Waru, disebelah kiri jalan, ada beberapa kantor pemerintahan/BUMD :
1. Perumahan/pergudangan milik salah satu BUMD (lupa namanya)
2. Kantor DLLAJ
3. Kanwil Dep. Pertanian
3. Tanah kosong/Pergudangan milik BUMD/BUMN
4. Bulog. Di depan Bulog, ada delta yang sebenarnya bisa dimanfaatkan
5. POLDA JATIM
6. Perumahan BUMD (yang ini sepertinya sudah dijual ke swasta)
7. Pusat Veterinaria
8. Ada yang tertinggal??

Dari sekian ratus meter ruas jalan yang terbentang mulai dari Waru sampai Wonokromo, hanya beberapa % saja tanah yang dimiliki oleh swasta/perorangan. Jika saja masing-masing dari badan pemerintah/bumd diatas ‘mau menjual’ sebagian tanahnya dengan harga ‘murah’ kepada pemkot untuk pelebaran ruas jalan, berapa rupiah yang bisa dihemat oleh pemkot?? Pemkot hanya tinggal me-lobby saja badan/bumd tersebut agar dapat menjual sebagian tanahnya kepada pemkot dengan harga murah, atas nama kepentingan bersama.

Sebenarnya, alternatif ini sudah sering dibahas di beberapa radio (saya belum pernah membaca di koran), tetapi alternatif yang menurut saya dapat menekan biaya pembangunan untuk memecahkan masalah lalu lintas di ruas tersebut, tidak diminati oleh pemkot Surabaya.

Lalu, jika alternatif-alternatif yang sudah pernah dibahas, program-program pemkot dalam rangka mengatasi kemacetan lalu lintas, rekayasa lalu lintas belum juga dapat mengatasi masalah, apa yang akan dilakukan oleh pemkot Surabaya ke depan??

Saya berharap, dan harapan kebanyakan orang, pemkot dapat mengatasi masalah lalu lintas ini dengan segera.

*ironisnya, saat ini sudah berdiri 2 mall besar di masing-masing ujung ruas jalan Ahmad Yani, yang menurut saya dapat menyebabkan kemacetan, hiks…hiks…

Tips berkendara di kemacetan
Jika Anda terjebak kemacetan, berikut tips yang mungkin berguna :

  • Anggap semua yang terjebak macet itu adalah Saudara Anda
  • Bersenandung lagu-lagu yang Anda suka. Anda tidak akan sadar bahwa Anda telah bersenandung lebih dari 1 album begitu sampai dirumah 😉 atau…
  • Berzikir dalam hati, memohon diberikan keselamatan

Insya Alloh, Anda akan selamat sampai tujuan tanpa merasa lelah. Tanpa harus ‘gontok-gontokan’ dengan pengguna jalan yang lain.

Related Posts

Tags

Share This

1 Comment

  1. pasang iPod kalo lagi naek motor. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *